Pijat Bayi Aman Berbasis Keluarga

  • 01 Agustus 2013
Pijat Bayi Aman Berbasis Keluarga
Berdasarkan kongres WHO tentang pengobatan tradisional tahun 2008 di Beijing memberikan resolusi agar mengembangkan pelayanan kesehatan tradisional sesuai kondisi negaranya

 masing-masing dan komitmen bangsa Indonesia untuk turut serta berperan aktif dalam MDG (Millenium Developmental Goal) terutama dalam poin kesehatan ibu dan anak, maka mengembangkan potensi budaya tradisional sebagai sarana pemecahan masalah kesehatan ibu dan anak menjadi cara yang tepat terutama di daerah-daerah terpencil.

Pijat bayi merupakan salah satu kebudayaan tradisional yang paling tua di Indonesia bahkan di dunia. Di negara Cina dan Yunani bahkan ditemukan bukti telah adanya pijat sebagai media terapi kesehatan sejak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai kebiasaan memijatkan bayinya sejak bayi lahir hingga masa kanak-kanak. Pelaku utama pijat bayi tradisional ini adalah dukun bayi yang mendapatkan ketrampilannya secara turun temurun.

Salah satu target pembangunan adalah menciptakan sumber daya manusia yang optimal. Kondisi yang optimal sejak bayi akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak yang selanjutnya tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Untuk mencapai tumbuh kembang optimal bayi membutuhkan stimulasi asih, asuh dan asah yang optimal dari lingkungannya. Pijat merupakan stimulasi taktil yang memiliki efek fisiologi dan biokimia di dalam tubuh. Stimulasi pijat yang dilakukan oleh ibu terhadap bayi dapat meningkatkan kedekatan ibu dan bayi, meningkatkan berat badan bayi dan dapat menstimulasi produksi air susu ibu. Pemijatan dapat menyebabkan interaksi bayi dengan ibu lebih positif, dan bayi menjadi lebih tenang serta waktu tidur dan bangunnya lebih teratur. Terapi pemijatan dapat mengurangi kegelisahan dan hormon stresspada bayi yang baru lahir. Ketika terapi pemijatan tersebut diberikan oleh ibu bayi, pemijatan tersebut juga membuat ibu bayi merasa merasa lebih nyaman sama seperti pada bayi yang dipijatnya. Pemijatan juga akan menstimulasi nervus vagus yang akan memproduksi enzim gastrin dan insulin sehingga penyerapan saluran cerna lebih baik, lambung lebih cepat kosong, dan bayi akan lebih sering lapar, sehingga bayi akan menyusu lebih sering, dan hasil akhirnya berupa peningkatan berat badan bayi.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pijat bayi secara signifikan dapat menaikkan berat badan bayi preterm jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dasuki (2003) membuktikan bahwa pijat bayi dapat menaikkan berat badan pada bayi umur 4 bulan. Namun penelitian oleh Liaw (2000) memberikan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Serrano, Doren, Wilson (2010) pada bayi cukup bulan usia 2 bulan dan Dewi (2011) pada bayi 4 bulan menunjukkan hasil kenaikan berat badan bayi yang signifikan. Penelitian oleh Dewi (2009) di Kabupaten Bantul Yogyakarta menunjukkan pelaksanaan pijat bayi oleh dukun bayi kurang baik (66,7%), dan tanpa peregangan (100%) bila dibandingkan pedoman pijat bayi.

Komplikasi-komplikasi pijat bayi oleh dukun bayi yang pernah dilaporkan adalah perdarahan intrakranial dan ileus obstruktif. Gerakan-gerakan pijat bayi tradisional oleh dukun bayi terdapat beberapa perbedaan dengan gerakan-gerakan pijat bayi berdasarkan pedoman pijat bayi 2 yaitu pada pedoman pijat bayi tidak terdapat pijatan dibagian kepala bagian parietal maupun occipital, hanya berupa gerakan mengusap halus pada area wajah, dan gerakan pijat pada perut hanya gerakan pijat sesuai anatomi usus besar yang disebut gerakan I LOVE U, dan ini berbeda dengan gerakan pijat oleh beberapa dukun yang terdokumentasi terdapat pemijatan pada daerah kepala dan perut, sehingga dimungkinkan terjadinya beberapa komplikasi.

Rumah Sakit Akademik UGM telah beberapa kali mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan pelatihan pijat bayi yang berhubungan dengan kader masyarakat sekitar RS. Harapan dari diadakannya pelatihan tersebut, maka dukun bayi dapat memiliki kesamaan pengetahuan, persepsi dan perubahan perilaku dalam memijat dan dapat berperan sebagai  mitra kesehatan keluarga secara aktif. Selain itu ibu dan ayah sebagai orang tua, dengan melakukan pijat bayi akan meningkatkan bonding/ikatan emosional antara orang tua – bayi, meningkatkan kepercayaan orang tua dalam mengasuh anak, dan tercukupinya kebutuhan bayi akan asih,asuh, dan asah secara optimal.

Menurut dr. Utami Roesli Sp.A(K), dalam pedoman pijat bayi kurang bulan dan cukup bulan usia 0-3 bulan, cara memijat bayi berdasarkan kelompok umur (1) Bayi umur 0-1 bulan; gerakan yang lebih mendekati usapan-usapan halus. Sebelum tali pusat bayi lepas sebaiknya tidak dilakukan pemijatan di daerah perut, (2) Bayi umur 1-3 bulan ; gerakan halus disertai tekanan ringan dalam waktu yang lebih singkat, (3) Bayi umur 3 bulan – anak umur 3 tahun; seluruh gerakan dilakukan dengan tekanan dan waktu yang makin meningkat. Total waktu pemijatan disarankan sekitar 15 menit.   Lumurkan sesering mungkin minyak atau baby oil atau lotion yang lembut sebelum dan selama pemijatan. Setelah itu, lakukan gerakan pembukaan berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi muka bayi atau usaplah rambutnya. Gerakan pembuka ini untuk memberitahukan bahwa waktu pemijatan akan segera dilakukan padanya. Pemijatan sebaiknya dimulai dari kaki bayi, sebab umumnya bayi lebih menerima apabila dipijat pada daerah kaki. Permulaan seperti ini akan memberi kesempatan pada bayi untuk membiasakan dipijat sebelum bagian lain disentuh. Itu sebabnya urutan pemijatan bayi dianjurkan dimulai dari bagian kaki, kemudian perut, dada, tangan, muka, dan diakhiri pada bagian punggung.

Pijat bayi aman berbasis keluarga mengikuti pedoman pijat bayi oleh dr. Utami Roesli Sp.A(K), dan bila masyarakat ingin mempelajari pijat bayi secara khusus, dapat menghubungi RS Akademik, dan pelatihan khusus akan diadakan oleh ahli fisioterapi secara professional.

Oleh: dr.Ade Febrina Lestari, Msc, Sp.A

  • 01 Agustus 2013

Artikel Lainnya

Cari Artikel